DETAIL PENGUMUMAN

In-House Training Pemahaman SNI ISO 9001:2008 Pada 30-31 Juli 2015

31 Aug 2015

Pelatihan yang berlangsung pada tanggal 30-31 Juli 2015 ini diikuti oleh 25 orang peserta yang berasal dari Bagian Umum dan Kepegawaian serta Bagian Diklat – PUSDIKLAT Perdagangan. Bertempat di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung Kelas PUSDIKLAT Perdagangan, pelatihan Pemahaman SNI ISO 9001:2008  ini dipandu oleh Instruktur Bapak Andry R. Prihikmat dan dibantu oleh Asisten Instruktur Wiranti Suwarti Sari dengan agenda pelatihan meliputi pemaparan yang terkait Undang-Undang No.20 Tahun 2014 mengenai Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, akreditasi dan sertifikasi, pengantar SNI ISO 9001:2008, Sistem Manajemen Mutu (klausul 4), Tanggung Jawab Manajemen (klausul 5), Pengelolaan Sumber Daya (klausul 6), Realisasi Produk (klausul 7) dan Pengukuran, Analisis dan Perbaikan (klausul 8).

Pemaparan diawali dengan penyampaian informasi mengenai Undang-Undang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian yang disahkan tanggal 17 September 2014 dan menjadi payung hukum pelaksanaan kegiatan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai sistem akreditasi dan sertifikasi yang menjelaskan tentang kegiatan penilaian kesesuaian, khususnya akreditasi dan sertifikasi, lembaga yang terlibat, manfaat, proses sertifikasi mulai dari tahap pra audit, kajian dari sistem terdokukmentasi terhadap standar dan berdasarkan lingkup sertifikasi, audit sertifikasi sampai dengan sertifikasi. 

Kemudian dijelaskan mengenai pengantar SNI ISO 9001:2008, apa itu ISO, ISO 9001, ISO 9001 series, manfaat penerapannya, sejarah perkembangannya, serta diinformasikan kepada peserta pelatihan bahwa saat ini ISO 9001 sedang mengalami revisi dan sudah masuk dalam tingkat Final Draft International Standard (FDIS) dan akan segera dirilis ISO 9001:2015. Dijelaskan bahwa terdapat perbedaan dalam ISO 9001 versi 2008 dan 2015 yaitu dalam ISO 9001:2015 ada penambahan 2 klausul yaitu klausul 9 Evaluasi Performa dan klausul 10 tentang peningkatan serta lebih mengedepankan pendekatan manajemen resiko.

Dalam persyaratan SNI ISO 9001:2008, Instruktur menjelaskan tentang ruang lingkup Sistem Manajemen Mutu (SMM), aplikasi dan hal yang dapat dikecualikan, persyaratan umum dimana organisasi diharuskan untuk menetapkan, mendokumentasikan, menerapkan, memelihara dan meningkatkan secara berkesinambungan SMM sesuai dengan persyaratan standar ini, serta persyaratan dokumentasi yang harus mencakup kebijakan dan sasaran mutu, pedoman mutu, prosedur terdokumentasi dan rekaman serta dokumen, termasuk rekaman ditetapkan organisasi, yang diperlukan untuk memastikan efektifitas perencanaan, operasi dan pengendalian atas proses-proses tersebut. Untuk lebih meningkatkan pemahaman peserta, diberikan latihan berkelompok berupa penyusunan alir kegiatan. Peserta dibagi ke dalam 4 kelompok dan diminta mengidentifikasi kegiatan beserta alirnya sesuai dengan lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh mayoritas anggota kelompok. Kemudian hasilnya dipaparkan oleh setiap kelompok dan didiskusikan.

Selanjutnya dipaparkan mengenai tanggungjawab manajemen dimana manajemen puncak harus dapat membuktikan komitmennya untuk mengembangankan dan menerapkan SMM serta secara berkesinambungan meningkatkan efektifitasnya, menetapkan dan memenuhi persyaratan pelanggan (focus pada pelanggan), membuat dan menetapkan kebijakan mutu yang sesuai dengan tujuan organisasi dan dikomunikasikan kepada seluruh jajaran organisasi untuk dapat dipahami, membuat perencanaan mutu dan SMM, Dalam klausul ini dipaparkan juga mengenai tanggung jawab, wewenang dan komunikasi serta tinjauan manajemen.

Untuk memastikan sistem manajemen mutu dijalankan dengan baik, perlu diperhatikan faktor pengelolaan sumberdaya yaitu terkait ketersediaan sumber daya, kompetensi, pelatihan dan kepedulian sumber daya manusia, infrastruktur dan lingkungan kerja.

Dalam klausul realisasi produk dijelaskan mulai dari proses perencanaan, proses yang berhubungan dengan pelanggan, desai dan pengembangan, pembelian, produksi dan penyediaan jasa, serta bagimana melakukan pengendalian alat pemantauan dan pengukuran. Terakhir, dilakukan pengukuran, analisis, serta peningkatan proses yang dibutuhkan untuk menunjukan kesesuian produk, memastikan kesesuaian SMM, serta meningkatkan secara berkesinambungan efektifitas SMM. Di akhir sesi, peserta kemudian diminta berdiskusi secara berkelompok untuk berlatih menyusun tindakan koreksi, korektif dan preventif studi kasus, kemudian dipaparkan dan didiskusikan dalam kelas.